Friends Make Life a Little Sweeter
Senin, 31 Desember 2012
Kak, hujan turun
tidak deras...
hanya rintik rintik kecil
rasanya...
rasanya sejuk
mendamaikan perasaan
mendinginkan pikiran
Kak, rasanya...
rasanya air mata ini ingin menetes...
entah untuk alasan apa
untuk alasan yang mana
mungkin terlalu banyak alasan kenapa air mata ini ingin menetas
ini...
ini...
ini...
dan ini....
Kak, kapan kita bertemu....?
Banyak cerita yang ingin aku sampaikan....
Kak, kenapa lapang dada itu sulit sekali rasanya...?
Kak, rasanya seperti dihimpit sesuatu...
sesak....
Kak, aku kenal seseorang....
hampir 2,5 tahun ini kami berteman....
dia...
dia baik....
bahkan mungkin terlalu baik...
kami menjadi teman yang saling berbagi
berbagi makanan, berbagi carita
meskipun lebih banyak dia yang bercerita....
lebih banyak dia yang bertanya
lebih banyak dia yang memperhatikan, membantu
lebih banyak dia yang menepati janji
janji janji kecil
Kak, kapan kita bertemu...?
sebentar lagi terompet pergantian tahun akan berbunyi....
tahun 2013....
Kak, kapan kita bertemu...?
aku ingin belajar banyak hal dari mu....
belajar tentang menerima
belaja tentang sabar
belajar tentang berbakti
belajar untuk menjadi lebih baik
Kak, kita akan bertemu kan...?
merasa memiliki akan sesuatu yang bukan milik mu
cemburu pada hal hal yang tidak seharusnya kamu cemburui
ah, perempuan...
selalu lebih dahulu mengedepankan perasaannya
padahal belum tentu apa yang dirasakan adalah nyata
padahal belum tentu gayung bersambut
padahal perasaan saya sekarang sedang tidak karuan...
benar kata Mba Errina kemarin...
skrup saya ada yang kendor...
bicara tak karuan
pikiran tak fokus
tulisan tak benar
kicauan menyakitkan orang
Rabu, 12 Desember 2012
Asam
mudah sekali retakan itu hilang...
cukuplah dengan campuran semen, air, dan pasir...
sedikit polesan cat yang senada dengan sisi tembok lainnya,
maka ia akan terlihat kembali sempurna...
mudah..
coba tengok gigi yang karies
mudah saja ia disembuhkan
cukuplah pergi ke dokter gigi
mereka akan memberikan terapi yang tepat
cukup ditambal atau diberi treatment lainnya...
tidak semudah memperbaiki tembok tadi
tapi, setelah 2 - 3 kali emndatangi dokter tersebut
gigi tersebut akan pulih seperti sedia kala
dapat difungsikan seperti sebelumnya.
Malah mungkin lebih baik lagi. ^^
tapi, coba tengok jika hati ini yang rusak
berkarat atau pecah menjadi kepingan kepingan kecil
tidak mudah untuk memfungsikannya seperti sedia kala
pastilah masih akan terlihat luka luka kecil itu
mungkin jadi hati itu akan kembali luka jika ada yang tidak sengaja menyiramkan asam di hati...
meskipun sedikit...
tapi asam tetaplah asam
yang akan membuat perih setiap luka
Selasa, 11 Desember 2012
Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin
setiap yang bergerak pasti akan berubah....
secara jelas maupun perlahan, dalam diam...
seolah sama....
seolah semua berjalan seperti biasa...
ah, seandainya....
setiap tahun matahari selalu bersinar cerah...
menghangatkan seluruh sisi bumi...
tapi, manakah mungkin itu terjadi....
Allah Maha Adil...
Dia menciptakan semesta ini dengan keseimbangan...
ada matahari yang bersinar cerah
pastilah Allah juga menciptakan rintik hujan
rintik hujan...
Air....
jika hangatnya sinar mentari mampu menghangatkan hati setiap insan
maka sejuknya rintik hujan mampu meluruhkan keangkuhan manusia..
merasakannya jatuh,
membasahi kulit...
mencium aroma tanah yang basah..
membiarkan tubuh ini disapa angin dingin....
seperti daun yang jatuh tidak pernah membenci angin....
menerima semua dengan lapang...
menerima setiap perubahan yang ada....
mengikuti apa yang sudah Allah tetapkan baginya...
Jumat, 05 Oktober 2012
Untold Story
yang ini sebenernya cuma curhatan pribadi dan berharap ga ada yg baca tulisan saya yg satu ini.
tanpa menyebutkan nama tokoh dan tempat kejadian demi melindungi izzah semuanya, saya ingin menuliskan hal ini.
Terkadang berat untuk menyampaikan sesuatu hal yang padahal kita sendiri belum mampu untuk melaksanakannya. pun begitu yang dirasakan oleh seorang mba. Beliau sering ditanya oleh adik-adik maupun teman-temannya, bagaimana seharusnya interaksi antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya.
pertanyaan yang mudah untuk seorang aktivis agama, yang paham benar isi surat Al Ahzab : 53 yang tidak membenarkan adanya hubungan spesial alias pacaran sebelum pernikahan.
yup, si mba tersebut sebenarnya sadar akan hal itu. Tapi dia hanya wanita biasa, begitu biasanya berkilah. yang normal bila ia menyukai lawan jenisnya. ^__^
si mba memiliki wajah yang ayu, wajar bila satu, dua, tiga lelaki tertarik pada beliau. selama ini, ia memang jarang berinteraksi dengan lawan jenisnya. bila tidak teralu perlu, maka ia memilih untuk menjaga jarak. kadang terkesan sombong. tapi begitu lah.
namun, ia melakukan treatment tersebut tidak pada semua lawan jenis (non-muhrim). pada beberapa teman laki-lakinya beliau terkesan cair. bahkan sangat cair. diam-diam ada yg bergejolak dalam hati si mba. mungkin itu yang bisa disebut ketertarikan pada lawan jenis.
diawali niatan sebagai teman biasa, namun interaksi yang sering membuat semuanya menjadi berbeda. yah, si mba berusaha untuk biasa. namun, ternyata si lawan jenis, sebut saja mas D, yang seharusnya juga sudah mengerti juga ikut bersikap cair.
huft...
perempuan mana yg tidak akan luluh hatinya jika diberi perhatian khusus..?
yah, si mba luluh hatinya. diam-diam dia merasa spesial dimata mas D.
si mba (mungkin) jatuh hati. tapi rasa itu ia simpat dalam diam. (mungkin) dalam doa ia memohon ampun.
bukan tanpa usaha untuk menghilangkan (menjaga) rasa tersebut agar tidak berubah menjadi nafsu.
Sudah, si mba sudah berusaha, ikhtiar dan berdoa.
namun berkali-kali pula usaha itu gugur saat ada sms, messages, atau apapun yang berhubungan dengan Mas D tersebut.
Feeling seorang perempuan biasanya kuat. (terkadang) perempuan bisa membedakan mana laki-laki yang bersikap biasa saja, mana yang memiliki perasaan khusus.
Yap, si Mba pun bisa merasakannya.
bukannya tidak tahu, atau pun pura pura tidak tahu.
si Mba pun sebenarnya tahu apa yg seharusnya dia lakukan pada Mas D. Meminimalkan interaksi yg tidak perlu dan menyibukkan diri agar tidak memikirkannya. tapi hal itiu menjadi semakin sulit karena kemudahan yg diberikan oleh jejaring sosial. !_!
Lalu bagaimana dengan Mas D?
Mas D pun sama (mungkin). dia belum bisa menjadikan Mba N halal baginya. mungkin karena Mas D merasa belum mapan.
padahal Mba N siap jika harus berpeluh bersama Mas D.
mungkin juga karena posisi Mas D yang sebagai putra pertama dalam keluarganya, beliau merasa bertanggung jawab pada adik-adiknya.
Mas D selama ini selalu membuat Mba N menjadi seorang yg spesial (Bisa jadi Mba N hanya Ge eR ). Memberi perhatian, berusaha membuat mba N tidak marah, berusaha memberikan yg diminta mba N (Mba N pun kaget akan hal tsb).
jika mereka bersama di tempat umum, boleh jadi orang yg melihatnya akan berfikir ada sesuatu diantara mereka berdua (memang ada, paling tidak bagi mba N). walau pun selama ini mba N selalu menolak jika ada temannya yang menyindir kedekatan mereka berdua.
terakhir kemarin, Mba N bertemu dengan Mas D. keadaan masih sama, mereka berdua berusaha bersikap biasa dan wajar. tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya ada di hati mereka masing-masing.
Mba N masih berusaha mencoba menjaga hatinya, menjaga rasa sukanya tersebut sambil berdoa agar diberikan yang terbaik bagi dirinya.
Berusaha tetap menyampaikan apa yang ia tahu (menurut Al Quran & Hadits) kepada adik-adik ataupun teman-temannya yang bertanya pada beliau.
Bagaimana dengan Mas D?
Entah lah, mungkin jika nantinya Mas D dan Mba N bisa bersama, saya akan meminta mba N untuk menceritakannya.
Semoga Mba N dan Mas D diberikan jalan yang terbaik.
Apa pun itu....
Wow... cerita singkat si Mba. membuat sadar kalo setan itu bisa menggoda siapa saja, pada level apa saja. mungkin soal hati adalah kelemahan Mba N yang belum bisa Mba N atasi.
Baiklah, saya tahu bagaimana rasanya menjilat ludah sendiri. mungkin itu yg dirasakan mba N selama ini.
Saya berdoa agar Mba N selalu dikelilingi oleh teman-temannya yg dapat selalu mengingatkannya dan meluruskan jalannya.
Satu lagi yg saya yakini, bahwa tidak ada yang namanya persahabatan antara laki-laki dan perempuan.
Lambat laun, perasaan itu bisa berubah. dari salah satu pihak atau pun keduanya.... ^___^
Sabtu, 24 Maret 2012
Manajemen Pernikahan
Terinspirasi dari postingan teman saya mengenai nasehat pernikahan, saya jadi mencari tau bagaimana sebenarnya pernikahan itu, ternyata mengandalkan kecocokan dan rasa cinta saja tidak cukup, tapi yang paling utama adalah meniatkan pernikahan karena Allah ta’ala. Berikut saya copy artikel mengenai manajemen pernikahan yang ditulis oleh Miryatie Altaf yang ia tulis di situs www.tentang-pernikahan.com, semoga bermanfaat…….
Beberapa hari yang lalu saya dikejutkan oleh telepon dari seorang teman wanita. Lebih terkejut lagi karena tanpa basa basi dia langsung bertanya apa sebab dulu saya berpisah dengan mantan suami saya. Mendengar pertanyan itu, saya lantas balik bertanya, apakah dia juga ada rencana pisah. Dia bilang bukan, justru dia ingin menikah…
Teman ini dalam pandangan saya, termasuk salah satu yang menjalani hidup dengan “serius”. Saya kenal dia cukup lama, hampir 9 tahun. Di usianya yang masih sangat muda, ia sudah menduduki posisi strategis di sebuah perusahaan painting besar. Kemudian dia melanjutkan S2-nya di Australia dan India atas beasiswa dari perusahaan rokok terkemuka. Wajahnya pernah terpampang di surat kabar sepulang dia dari sekolah tersebut. Dan saat ini, dia bekerja di perusahaan multinasional besar.
Kami berbincang hampir satu jam. Dia sempat menyatakan kebimbangannya tentang pernikahan dengan menanyakan apa resiko yang dia tanggung jika dia menikah. Sebagai seorang intelektual yang selalu punya perhitungan di atas kertas, diapun memperlakukan sebuah pernikahan sebagai suatu organisasi yang memiliki resiko dan ancaman tertentu. Dan dia yakin, dengan pengalaman perceraian saya, dia akan bisa memperoleh support data buat menjawab hal itu dan menetapkan strategi untuk meminimalisasi resiko-resiko tersebut.
Saya tersenyum dengan pernyataan-pernyataan yang dia ungkapkan. Adakah orang lain yang juga memiliki pandangan seperti itu…? Kami memang sama-sama belajar manajemen strategi, juga belajar manajemen resiko. Organisasi punya strategi, pun punya resiko. Pernikahan juga demikian adanya. Saya sangat paham dengan cara berpikir teman saya ini. Tapi tentunya, menikah tidak melulu soal angka..:)
Orang membentuk sebuah organisasi ada tujuan yang umum disebut dengan visi dan misi. Ada analisa — sebutlah yang paling dasar saja–, SWOT, Strenght Weakness Opportunity dan Threat. Dalam jangka waktu tertentu, diharapkan modal yang digunakan untuk membangun organisasi itu akan kembali, atau disebut dengan titik BEP, Break Even Point. Lamanya pencapaian BEP sangat ditentukan oleh effort dan strategy yang dilakukan pada masa awal pasca kelahiran organisasi. Dan tentu saja faktor P ke-5 yaitu “people” sebagai pemikir dan penggerak di dalamnya memiliki peranan besar yang mengarahkan organisasi tersebut meraih visi-nya.
Resiko yang dihadapi mencakup resiko internal dan eksternal. Resiko eksternal sifatnya luas dan lebih intangible, misalnya goverment policy seperti harga BBM, aktifitas pesaing, market size dan lain sebagainya. Faktor eksternal hampir selalu bisa dipelajari melalui historical data dengan me-review kejadian-kejadian yang pernah terjadi dua hingga tiga tahun ke belakang. Sedangkan faktor internal, ada di dalam organisasi itu sendiri. Mulai dari kualitas produk atau jasa yang dihasilkan, infrastruktur yang dimiliki, perhitungan cost, analisa profit and loss, distribusi, pemasaran hingga people management. Namun, ada resiko laten yang juga harus diperhatikan, yaitu faktor human. Sistem bisa diciptakan dengan sempurna, zero defect. Tapi penggerak dari sistem itu tetap saja manusia yang memiliki paham dan pemikiran sendiri-sendiri.
Visi dan misi akan bisa tercapai, jika dipahami dengan persepsi yang sama oleh setiap penggerak, mulai dari top manajemen hingga office boy sekalipun. Sebagian golongan saja yang menyerap visi dan misi dengan persepsi yang berbeda, bisa berdampak kepada perbedaan pendapat, penyimpangan hingga perselisihan yang bisa memutuskan rangkaian proses kerja yang sudah ditetapkan. Lebih buruk lagi, perbedaan-perbedaan ini bisa mengarah kepada ketidakseimbangan dan siapa yang tidak bisa bertahan dengan perbedaan tersebut pada akhirnya lebih memilih hengkang.
Bagaimana dengan pernikahan.. Sama dengan organisasi, menikah pun harus punya visi dan misi. Harus punya target dan strategi. Juga ada resikonya. Resiko yang paling vital adalah terjadinya perceraian. Jika sudah sampai pada titik ini, artinya pondasi dan tiang dalam rumah tangga sudah tidak menyatu lagi, sehingga runtuhlah bangunan itu. Setiap orang yang akan menikah pasti punya tujuan idealis sendiri. Lucunya, saat saya tanya teman saya apa tujuan dia menikah, justru dia menjawab ‘tidak ada. Aku hanya harus menikah.’ Hhumm.., ternyata, seorang rasionalis-pun kadang kehilangan ‘rasa’ ketika harus menetapkan tujuan..:) Ups…
Saya kutip sedikit ucapan dia “There’s no excitement about it. I just find him kind, serious dan ready to married. Makanya aku perlu tahu, resiko apa saja yang akan terjadi dan harus aku tanggung. Coz I know this is a very big deal. Why even a person like you can’t survive your marriage…”
Bahkan jika sepuluh orang gagal berumah tangga di interogasi sekalipun, tidak akan bisa menjawab pertanyaan, “berapa rasio kegagalan dalam rencana pernikahan saya”. ROI (Return on Investment)-nya bukanlah 30 persen kenaikan penghasilan atau cut-off 20 persen pengeluaran pribadi… Terlalu mudah jika demikian.
Barangkali pelajaran yang bisa dikutip dari manajemen organisasi di atas yaitu persamaan persepsi tentang organisasi, visi dan misinya. Ketika dua orang manusia ingin melebur dalam satu lembaga perkawinan, seyogya-nya mereka berdua memiliki paham yang sama tentang konsep pernikahan dan eksistensi serta peran dari masing-masing fungsi: istri dan suami, ibu dan ayah. Dengan memahami bahwa pernikahan adalah ajang untuk saling melengkapi, menutupi kekurangan masing-masing dan mengisi atas dasar landasan yang sama dan diimbangi dengan tujuan ibadah pelengkap dien, bisa jadi pernikahan malah jauh lebih sederhana ketimbang suatu organisasi.
Kalau sudah begitu, maka resiko bukanlah menjadi resiko pribadi atau perorangan. Resiko menjadi milik bersama. Hidup toh bukan hanya “aku dan kamu” saja, ada orang lain, ada lingkungan, ada faktor eksternal, ada masa lalu. Namun, kesolid-an hubungan kedua insan dalam internal pernikahan dengan masing-masing menyadari langkah tak selamanya mulus dan aral kadang melintang, berdua malah justru menjadikan semua itu ringan, seuntai goresan warna dan hanyalah bagian dari proses pembelajaran ke arah yang lebih baik. Badai pasti berlalu, siang pasti berakhir dan roda pasti berputar. Hiduplah untuk hari ini, dan hiduplah untuk hari esok.
Jalan menuju pernikahan yang paling baik justru adalah jauh dari tipuan perasaan yang bisa membutakan. Perlukah excitement? Perlu, tapi excitement horizontal, excitement untuk menyempurnakan separuh dien. Bukan excitement duniawi. Jika menempuh jalan ini, insya Allah excitement duniawi dengan sendirinya akan timbul pasca pernikahan berupa hidayah dari Allah.
Kapan titik BEP pernikahan? Menjawab pertanyaan ini, ada sebuah cerita lucu. Waktu itu teman yang lain akan melangsungkan pernikahan dengan hanya mengundang orang-orang “tertentu” saja, yang menurutnya akan memberikan angpow cukup besar yang akan menutup biaya pernikahan. Namun yang terjadi justru undangan yang datang malah jauh lebih sedikit dari yang diharapkan. Barangkali karena pesta pernikahan dilaksanakan di tengah long weekend. Jadi, tujuan untuk mendapatkan “return” dari angpow para undangan, jelas tidak tercapai… Yang pasti BEP pernikahan bukanlah dalam hitungan (angpow) rupiah, atau rasio income dibagi expense = nol. BEP itu hanya bisa dirasakan di hati. Adalah ketika kehidupan pernikahan menjadi al-baiti jannati, “aku tak bisa hidup tanpa kamu”, dan lebih bahagia dengan status menikah dari pada waktu status masih lajang. Kapankah itu…? Bisa 2 tahun, 1 tahun, 1 bulan, bahkan 1 minggu. Tergantung ikhtiar dan kedewasaan masing-masing individu.
Bagaimana bisa tahu apakah visi dan misi sudah tercapai? Jika visi dan misi sesuai dengan syariat, tercapai atau tidaknya merupakan proses panjang. Penikahan yang sakinah, mawaddah dan warahmah, akan abadi hingga di fase kehidupan berikutnya. Tapi paling tidak, perasaan aman dan tentram di dunia ini saja, serta anak-anak yang sholeh yang selau mendoakan, sudah bisa menjawab pertanyaan di awal alinea ini.
Kesimpulannya, setiap orang punya jalan hidup sendiri-sendiri. Pengalaman pernikahan dan perceraian seseorang merupakan pelajaran hidup yang bisa dipetik hikmahnya, tapi tidak bisa dijadikan patokan dan bench-mark untuk pernikahan orang lain. Apalagi menjadikan traumatis bagi yang berencana menikah. Tapi saya percaya, setiap jalan hidup syar’i yang ditempuh merupakan langkah ke arah ma’rifatullah. Dan menikah adalah salah satunya. Menikahlah karena Allah, menikahlah untuk menjemput ridho Allah, menikahlah karena sunatullah. Kalau ini menjadi landasan, pun ketika takdir mengatakan harus berpisah, dengan enteng kita bisa bilang, “sudah jalan-Nya begitu, cukuplah Allah bagiku…”
Selasa, 21 Februari 2012
Adam Smith The Wealth of Nations
Adam Smith bukanlah orang pertama yang mengabdikan diri pada teori ekonomi. Tetapi, dialah orang pertama yang mempersembahkan teori ekonomi yang sistematik dan mudah dicerna yang cukup tepat sebagai dasar bertolak buat kemajuan bidang itu di masa depan. Atas dasar alasan itu, layaklah dianggap bahwa The Wealth of Nations merupakan pangkal tolak dari penelitian modern politik ekonomi.Salah satu hasil besar yang disuguhkan buku ini adalah karena ia meluruskan dan menghalau pelbagai anggapan yang jadi anutan orang sebelumnya. Smith adu pendapat dan menentang teori lama ekonomi perdagangan yang menekankan arti penting perlunya negara punya persediaan batangan emas dalam jumlah besar. Begitu pula, bukunya menolak pandangan para physiokrat yang mengatakan bahwa tanah merupakan sumber utama dari nilai. Sebaliknya Smith menekankan arti pokok yang paling penting adalah tenaga kerja. Smith dengan gigih menekankan bahwa peningkatan produksi dapat dicapai lewat pembagian kerja dan dia menyerang habis semua peraturan pemerintah yang usang dan campur tangannya berikut hambatan yang menghalangi perkembangan dan perluasan industri.
Ide sentral The Wealth of Nations adalah pasar bebas yang bergerak menurut mekanisme pasar yang dianggapnya secara otomatis bisa memprodusir macam dan jumlah barang yang paling disenangi dan diperlukan masyarakat konsumen. Misalnya, persediaan barang yang justru disenangi merosot, dengan sendirinya harga akan naik dan kenaikan harga ini akan mendatangkan untung banyak bagi siapa saja yang memproduksinya. Karena untung banyak, pabrik-pabrik lain tergerak untuk memproduksi juga. Akibat dari kenaikan produksi tidak bisa tidak akan menyingkirkan keadaan kekurangan barang. Lagi pula, kenaikan suplai dalam kaitan dengan kompetisi antar pelbagai perusahaan akan cenderung menurunkan harga komoditi pada tingkat harga yang "normal," misalnya ongkos produksinya. Tak ada pihak mana pun yang membantu melenyapkan kelangkaan, tetapi kelangkaan itu akan teratasi dengan sendirinya. "Tiap orang," kata Smith "cenderung mencari keuntungan untuk dirinya, tetapi dia dtuntun oleh tangan gaib untuk mencapai tujuan akhir yang bukan menjadi bagian keinginannya. Dengan jalan mengejar kepentingan dirinya sendiri dia sering memajukan masyarakat lebih efektif dibanding bilamana dia betulbetul bermaksud memajukannya" (The Wealth of Nations, Bab IV, pasal II).
"Tangan gaib" ini tak dapat melakukan pekerjaan sebagaimana mestinya jika ada gangguan terhadap persaingan bebas. Smith karena itu percaya kepada sistem perdagangan bebas dan menentang keras harga tinggi. Pada dasarnya dia menentang keras hampir semua ikut campurnya pemerintah di bidang bisnis dan pasar bebas. Campur tangan ini, kata Smith, hampir senantiasa akan mengakibatkan kemerosotan efisiensi ekonomi dan ujungujungnya akan menaikkan harga. (Smith tidaklah menciptakan semboyan "laissez faire," tetapi dia lebih dari siapa pun juga menyebarkan konsep itu). Beberapa orang peroleh kesan bahwa Adam Smith tak lain dari seorang yang cuma "menari menurut bunyi gendang" demi kepentingan ekonomi. Pendapat ini tidaklah benar. Dia berulang kali dan dengan kata-kata keras, mengecam habis praktek-praktek monopoli ekonomi dan menginginkan penghapusannya. Dan Smith bukannya orang naive dalam hubungan ekonomi praktek. Ini bisa dibaca dari pengamatannya yang khas dalam buku The Wealth of Nations: "Orang dalam dunia dagang barang yang sama jarang bisa ketemu bersama, tetapi pembicaraan akan berakhir pada pembentukan komplotan yang bertentangan dengan rakyat, atau dalam bentuk lain menaikkan harga."
Begitu sempurnanya Adam Smith mengorganisir dan mengedepankan sistem pemikiran ekonominya, sehingga hanya dalam jangka waktu beberapa puluh tahun saja mazhab-mazhab ekonomi sebelumnya tersisihkan. Nyatanya, semua pokok-pokok pikiran mereka yang bagus telah digabungkan dengan sistem Smith, sementara Smith dengan sistematis mengungkapkan kekurangan-kekurangan mereka yang ada. Pengganti Smith termasuk ekonom-ekonom kenamaan seperti Thomas Malthus dan David Ricardo, mengembangkan dan menyempurnakan sistemnya (tanpa mengubah garis-garis pokoknya) menjadi struktur yang kini digolongkan kedalam kategori ekonomi klasik. Sampai pada suatu tingkat penting tertentu, bahkan teori ekonomi Karl Marx (meski bukan teori politiknya) dapat dianggap sebagai kelanjutan dari teori ekonomi klasik. Dalam buku The Wealth of Nations, Smith sebagian menggunakan pandangan-pandangan Malthus tentang kelebihan penduduk. Tetapi, jika Ricardo dan Karl Marx keduanya bersikeras bahwa tekanan penduduk akan mencegah upah naik melampaui batas keperluan (apa yang disebut "hukum baja upah"), Smith menegaskan bahwa kondisi kenaikan produksi upah dapat dinaikkan. Amatlah jelas, kejadian-kejadian -membuktikan bahwa Smith benar dalam segi ini, sedangkan Ricardo dan Marx meleset.
Tak ada sangkut-pautnya dengan ketetapan pandangan Smith atau pengaruhnya terhadap para teoritikus ekonomi yang datang belakangan, yang terpenting adalah pengaruhnya terhadap perundang-undangan serta politik yang diambil pemerintah. The Wealth of Nations ditulis dengan keulungan yang tinggi serta kejernihan pandangan yang tak bertolok banding dan terbaca amat luas. Argumen Smith menghadapi campur tangan pemerintah dalam bidang bisnis dan dunia perdagangan dan demi rendahnya harga serta perekonomian bebas, telah mempengaruhi secara pasti terhadap garis kebijaksanaan pemerintah di seseluruh abad ke-19. Sesungguhnya, pengaruhnya dalam hal itu masih tetap terasa hingga sekarang. Sejak teori ekonomi berkembang pesat sesudah masa Smith, dan beberapa gagasannya tergeser oleh pendapat-pendapat lain, sangatlah mudah mengecilkan makna penting Adam Smith. Mesti begitu, fakta menunjukkan, dialah pemula dan pendiri tokoh ekonomi sebagai suatu studi yang sistematis,dan dia sesungguhnya tokoh terkemuka dalam sejarah pemikiran manusia